Sebelumnya, saya ingin sedikit membahas tentang
definisi ‘kedokteran islam’. Kalau boleh jujur, saya SANGAT TIDAK NYAMAN
dengan terminologi ‘Kedokteran Islam’. Seolah mengesankan pembelajaran
sains dan bentuk penerapannya tidak islami. Padahal bila kita lihat
firman-Nya di QS Al-Isra : 44
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
Seluruh
makhluk-Nya bertasbih kepada-Nya. Artinya, sel-sel tubuh kita, reaksi
biokimia dalam tubuh kita, struktural dan fungsional tubuh kita,
kesemuanya sudah bisa kita bilang ‘islami’. Itulah ayat kauniyah-Nya.
Adapun sains kedokteran yang terkuak oleh bermacam peneliti muslim
maupun non-muslim adalah tafsir mereka terhadap ayat kauniyah-Nya.
Meskipun, baik disadari oleh para peneliti itu atau tidak, sains yang
kita nikmati sekarang merupakan bukti kekuasaan-Nya. Sudah cukup
‘islami’ bukan apa yang terjadi dalam tubuh kita?? Ini adalah alasan
pertama kenapa saya kurang nyaman dengan istilah ‘kedokteran islam’
terlepas dari epistemologi aksiologi dan semacamnya.
Kemudian,
yang menjadi kerancuan kedua adalah bahwa ‘kedokteran Islam’ satu ini
cenderung menempel dengan ‘Thibbun Nabawi’ yang diberi embel-embel
‘pengobatan dari wahyu’ yang dampaknya adalah adanya pertentangan konsep
‘kedokteran Islam’ dengan ‘kedokteran modern’ yang kita pelajari di
kampus. Mungkin secara real bisa
kita lihat menjamurnya praktisi thibbun nabawi, yang dimana merupakan
hasil dari dikotomi antara ‘kedokteran islam’ dan ‘kedokteran modern’.
Dalam
buku ‘Pilih resep Nabi atau resep dokter?’, dr. Sunardi memaparkan
bahwa Thibbun Nabawi ‘hanyalah’ hasil konfirmasi boleh tidaknya suatu
zat untuk pengobatan dan bentuk rekomendasi saja. Salah satu contohnya
adalah bekam. Bekam telah ada dan digunakan oleh bangsa Cina jauh
sebelum kelahiran Rasulullah SAW. Kemudian beliau mengkonfirmasi tentang
dibolehkannya metode ini.
Bukan
berarti maksud saya untuk membuang jauh-jauh konsep thibbun nabawi dari
‘kedokteran islam’. Namun, menurut saya kedokteran islam itu campuran
dari kedua konsep yang bertentangan itu. Kedokteran yang bermula dari
penelitian alias kedokteran modern pun sudah cukup ‘islami’. Mari kita
lihat beberapa ayat berikut ini
QS Al-Jatsiyaah (45) : 13
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.
QS Adz-Dzariyaat (51) : 21
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
Dari
dua ayat di atas saja JELAS Al-Quran telah memaparkan semangat
penelitian merupakan semangat yang cukup islami dan Allah telah
‘menawarkan’ objek-objek penelitian semuanya di langit dan di bumi untuk
kita eksplorasi dan kita manfaatkan.
Maka,
kedokteran modern yang kita pelajari dan kita nikmati setiap hari di
kampus merupakan kedokteran yang cukup islami. Inilah alasan kedua saya
akan ketidaknyamanan istilah ‘kedokteran islam’. Bukankah secara tidak
langsung istilah ini merupakan usaha sekulerisasi??
Maka
bila ditanya ‘apa kegunaan kedokteran islam dalam menjawab tantangan
era globalisasi?’ kurang tepat. Karena (1) kedokteran sudah ‘islami’,
justru PR kita bersama untuk menyadarkan ini ke semuanya, (2) kedokteran
itu sendirilah yang mengalami globalisasi, bukan instrumen untuk
menjawab globalisasi. Justru, Al-Quran yang kita jadikan instrumen untuk
menjawab globalisasi. Dalam hal ini, Al-Quran merupakan jawaban dari
globalisasi kedokteran.
Disadari atau tidak, kedokteran zaman sekarang sangat bermasalah.
Salah satunya adalah saat pendidikan kedokteran di fakultas. Masalah yang sangat besar di sini adalah kurangnya peranan ilmu kedokteran di fakultas dalam meningkatkan keimanan siswanya. Padahal,
bila sistem pembelajaran di fakultas di’satu napas’kan dengan Al-Quran,
atau minimal dengan bentuk refleksi/renungan seperti ‘sungguh
harmoni sekali reaksi biokimia dalam tubuhku Ya Allah. Sungguh indah
harmoni antara anabolisme dan katabolisme. Tidak terbayang apabila
Engkau tidak menyediakan anabolisme dalam tubuhku. Mungkin tubuhku telah
terbakar menjadi abu. Maha Suci Engkau Ya Allah. Tanpamu, aku bukan
apa-apa’, insya Allah keimanan calon dokter bertambah di sini.
Keimanan ini akan membentuk akhlaqul Qurani seperti yang dicontohkan
Rasulullah, yang tentunya dapat menjawab pertanyaan masyarakat tentang attitude seorang
dokter. Karena sekali lagi, ilmu kedokteran adalah ilmu tauhid dan tiap
tindakan atom dalam tubuh kita pun telah Allah janjikan hikmah yang
luar biasa.
QS Al-Baqarah : 26
Sesungguhnya
Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih
rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin
bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka,
tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan
ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang
disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang
diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali
orang-orang yang fasik,
Kemudian,
permasalahan besar selanjutnya adalah adanya kesenjangan antara
‘medical as humanity’ dan ‘medical as science’. Misalkan, saya agak
heran dengan pola perkembangan penelitian pengobatan suatu penyakit.
Misalkan antara penyakit HIV dan malaria. Kenapa perkembangan pengobatan
HIV sangat pesat yang sayangnya tidak sepesat untuk malaria?? Yang saya
analisa adalah bahwa HIV kebanyakan telah menjadi ‘penyakit orang kaya’
sedangkan malaria hanyalah ‘penyakit orang miskin’. Mungkinkah penyakit
orang miskin tidak menjanjikan dari segi ekonomi bagi para peneliti??
Ini adalah salah satu masalah besar karena para peneliti (dalam kasus
ini) bekerja demi uang. Bagaimana bila para peneliti tersebut bekerja
demi Allah?? Pastilah para peneliti ini setidaknya akan berusaha menjadi
seorang khalifatu fil ‘ard. Al-Quran sekali lagi merupakan solusi dari permasalahan ini.
Intinya,
Al-Quran akan menjawab globalisasi kedokteran secara sistemik. Al-Quran
akan menjawab semua permasalahan yang sangat banyak terjadi. Masalah
kompetensi dokter, penyediaan cadaver, hubungan dokter-pasien, bermacam aktivitas medis seperti stem cell,iPS (induced pluripotent stem cell), bank biologis, human parthenogenesis, dan
lain-lain semuanya akan terjawab BILA pembelajaran kedokteran dan
Al-Quran telah satu napas. Telah satu napas pembelajaran ayat Qauliyah
dan ayat Kauniyah.
QS Al-Hasyr (59) : 1
Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Wallahu’alam bishshawwab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar